Selasa, 30 September 2008

Selamat Hari Raya Idul FItri 1 syawal 1429 H

Assalamu'alaikum wr wb

saya atas nama keluarga mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1 syawal 1429 H, jalin silahturahmi eratkan ukhuwah islamiyah."Taqobbalallahu minna wa minkum kullu 'aam wa antum bi khaiir" ("Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan amal ibadah kalian,sepanjang tahun semoga kalian dalam kebaikan") Minal aidin wal faidzin.

Alhamdulillah jadi Mudik ke Tangerang euy Pasukan Berangkat!!!SmileyCentral.com

Selasa, 23 September 2008

Irian,Bumi Allah

900-an masjid telah tersebar di Irian (Papua), ribuan orang dimandikan secara massal, diajari cara berpakaian, dikhitan, kemudian dituntun mengucapkan kalimah syahadat.


Jangan terkejut bila suatu hari Anda bertemu dengan penduduk asli Irian yang pandai mengaji dan berbahasa Arab. Sampai saat ini sudah sekitar 1.400 anak asli Papua disekolahkan di berbagai pesantren di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi, gratis. Bahkan sebagian diantaranya sudah ada yang menuntut ilmu di perguruan tinggi di dalam dan luar negeri. Ratusan di antaranya tengah menempuh jenjang S1 bahkan sudah ada 29 orang yang meraih gelar Doktor ( S2 ).

Realitas di atas hanyalah sedikit dari prestasi yang diukir para da'i Yayasan Al Fatih Kaafah Nusantara, yang dikomandoi oleh ust. M. Zaaf. Fadlan Rabbani Al Garamatan, seorang pendakwah asli Irian yang baru menginjak usia 40 tahunan.

Perkembangan dakwah di bumi Papua ini memang istimewa, walaupun Islam adalah agama pertama yang masuk kesana melalui hubungan dengan kerajaan Islam Ternate dan Tidore di Maluku. Bahkan Sultan Iskandar Syah dari Samudera Pasai pun pernah berkunjung ke pulau cenderawasih ini, selain itu ditemukan pula jejak pengaruh dari kesultanan demak di masa Raden Patah. Namun opini dan pencitraan yang keliru yang sengaja dihembuskan, membuat sebagian kita mengidentikan Papua dengan Nasrani atau Kristen. Sebetulnya jumlah muslim di Irian cukup besar sekitar 40% dari jumlah penduduknya.

Berdakwah di antara Babi dan Koteka


Pembinaan masyarakat asli Irian,setelah mereka diperkenalkan dengan islam adalah mengajari mandi dan berpakaian. Sebelumnya mereka tidak pernah mengenal cara memebersihkan tubuh,bahkan untuk menghindari gigitan nyamuk dan udara dingin mereka selalu melumuri tubuhnya dengan minyak babi. Para calon muallaf ini dibimbing untuk mandi dengan air dan sabun juga keramas memakai sabun.

Pernah suatu ketika ada seorang kepala suku yang begitu menikmati sabun mandi,tanpa dibilas dia langsung keliling kampung karena amat senang dengan bau wangi sabun ditubuhnya.

Mengenalkan pakaian memang proses awal yang susah,mula-mula ketika dikenalkan celana kolor (underwear) mereka tertawa. Namun ketika mereka memakainya semakin lama semakin enjoy, malah akhirnya malu melepaskannya. Muslimah-muslimah muallaf ini pun tidak kalah semangatnya dalam ber-islam,mereka pun merasa senang dengan balutan busana yang menutupi aurat,tidak nampak keengganan diwajah mereka sedikitpun.

Bahkan suatu kali pernah ditanyakan secara berkelakar kepada muslimah irian ini "Apakah mereka mau kembali melepaskan busananya dan kembali bertelanjang seperti dulu?". Mereka tersipu malu dan menolak untuk menampakkan auratnya,seperti ketika belum mengenal islam,sungguh mengharukan. Menjadi ironis bila kita melihat kehidupan wanita di Jakarta yang justru berlomba-lomba menelanjangi tubuh mereka,dan bersedia difoto dengan busana terbuka dicover-cover majalah."Kasihan bener orang jakarta,baru belajar telanjang!!".

Menjadi Lebih Baik Setelah memeluk islam

Setelah memeluk islam setiap sholat fardu selalu menyempatkan melakukannya dimusholla atau masjid dan mereka mengaku merasa senang.Barangkali islam mereka lebih baik dari saudara-saudara muslim yg sudah lahir sejak kecil.
ada seorang kepala suku yang menyatakan masuk islam,kemudian dianiaya sekelompok orang,ditindih kayu,ditelanjangi,namun tetap teguh memegang syahadat

sumber http://wakaf-alquran.org/
-------------------------------------------------------------------------------------------
komentar saya: Anda ingin mendukung saudara-saudara kita dalam mendalami islam dengan wakaf Al-Quran silahkan gabung,untuk info lebih lanjut buka site yang sudah saya cantumkan

Minggu, 21 September 2008

Non Muslim Indonesia Masuk ke Tanah Suci


ANGGOTA KOMISI VIII DPR RI NON MUSLIM

MASUK KE TANAH SUCI

Kesengajaan Pemerintah Indonesia membiarkan kaum kafir masuk ke tanah suci Mekkah dan Madinah ini bukan saja terhadap persoalan Ahmadiyyah, akan tetapi juga terjadi terhadap non muslim lainnya. Berdasarkan informasi Forum Musyawarah Masyarakat Indonesia di Jeddah (FORMIDA), pada musim haji 1426 H ada seorang non muslim anggota Tim Pemantau Haji dari Komisi VIII DPR RI bernama Theodorus JK telah masuk ke Tanah Haram. Masuknya Theodorus JK ke Tanah Haram difasilitasi oleh Badan Urusan Haji yang ada di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah.

Berdasarkan hal-hal yang kami sampaikan di atas maka Ummat Islam Indonesia mengajukan TUNTUTAN kepada Pemerintah Indonesia Untuk :

1. Depag RI selaku Instansi Teknis Penyelenggara Haji dan Umroh HARUS melarang pengikut Ahmadiyah untuk melakukan Haji ke Tanah Suci.

2. Setiap Jamaah Haji harus membawa Surat Keterangan Bebas Ahmadiyah (SKBA) dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan setempat yang dilegalisir oleh Kantor Urusan Agama (KUA) setempat pula.

3. Depag RI harus meminta maaf kepada umat Islam atas kelalaiannya yang selama ini telah membiarkan orang-orang kafir Ahmadiyah menunaikan ibadah Haji dan Umrah, serta berjanji untuk tidak mengulanginya.

4. Depag RI harus menyampaikan protes atau keberatan kepada DPR RI atas tindakan Komisi VIII DPR RI yang telah memasukkan Theodorus JK ke dalam Tim Pemantau Haji, bahkan mengirimnya ke Tanah Suci, karena ini persoalan umat Islam, maka umat agama lain tidak boleh ikut campur.

5. Pemerintah RI harus meminta maaf kepada umat Islam atas kelalaiannya sehingga ada orang non Islam dari anggota Tim Pemantau Haji Komisi VIII DPR RI memasuki Tanah Suci.

JAKARTA 16 RAMADHAN 1429 H / 16 September 2008 M

Sumber:http://www.fpi.or.id/
-----------------------------------------------------------------------------------------
komentar saya:
Sungguh ironis Indonesia yang merupakan penduduk muslim terbesar didunia bisa-bisanya memasukan seorang non muslim ke tanah suci.
Sebenarnya saya sudah tahu informasi ini jauh sebelum tragedi Monas,tapi karena kawan-kawan dari FPI tengah sibuk mengamati jalannya persidangan Habib RizieQ jadi artikel ini agak sedikit terlambat.

Sabtu, 20 September 2008

Habib Rizieq: Hanya Membuang Waktu, Lebih Baik Membaca al-Quran

Hanya membuang waktu saya. Saya lebih baik membaca al-Quran dan tafsir di sel tahanan saya daripada berada di ruang sidang ini. Demikian ditegaskan Ketua Umum Front Pembela Islam Habib Rizieq saat menjawab pertanyaan ketua majelsi hakim Panusunan Harahap yang meminta tanggapan atas keterangan saksi anggota Laskar Pembela Islam (LPI) di PN Jakarta Pusat, Jakarta, Senin (15/09/08).

Menanggapi itu, Panusunan hanya diam. Habib Rizieq mengaku lelah mendengarkan keterangan sejumlah saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum.

Majelis Hakim Takut

Majelis hakim memutuskan melanjutkan sidang pada Senin 22 September 2008 dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari JPU. Kuasa hukum Habib Rizieq, Indra Sahnun Lubis, sebelumnya mengancam akan mundur dari persidangan.

"Oleh karena saya tidak percaya lagi dengan persidangan ini. Apa yang majelis hakim takutkan? Apa takut dipindahkan jabatan atau takut membela Islam? Tolong putuskan tentang penangguhan penahanan, apa wajar kita punya kesaksian. Ini kiai kita, ini imam masjid. Saya minta diputuskan. Kalau tidak dikabulkan saya minta terdakwa tidak hadir lagi di persidangan," papar Rizieq.

Sementara massa FPI kecewa saat mendengar majelis hakim belum memutuskan permohonan penangguhan penahanan Habib Rizieq.

"Tutup pengadilan. Tidak usah ada hukum," kata massa FPI. (f/dtk/syabab.com)

Kamis, 18 September 2008

Etika Bergaul

Taufik Ismail, Lc.


"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al-Hujurat [49] : 13).

Pergaulan adalah salah satu cara seseorang untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Bergaul dengan orang lain menjadi satu kebutuhan yang sangat mendasar, bahkan bisa dikatakan wajib bagi setiap manusia yang 'masih hidup' di dunia ini. Sungguh menjadi sesuatu yang aneh atau bahkan sangat langka, jika ada orang yang mampu hidup sendiri. Karena memang begitulah fitrah manusia. Manusia membutuhkan kehadiran orang lain dalam kehidupannnya.

Tidak ada makhluk yang sama seratus persen di dunia ini. Semuanya diciptakan Allah berbeda-beda. Meski, ada persamaan, tapi tetap semuanya berbeda. Begitu pula halnya dengan manusia. Lima milyar lebih manusia di dunia ini memiliki ciri, sifat, karakter, dan bentuk khas. Karena perbedaan itulah, maka sangat wajar ketika nantinya dalam bergaul sesama manusia akan terjadi banyak perbedaan sifat, karakter, maupun tingkah laku. Allah menciptakan kita dengan segala perbedaannya sebagai wujud keagungan dan kekuasaanNya.

Maka dari itu, janganlah perbedaan menjadi penghalang kita untuk bergaul atau bersosialisasi dengan lingkungan sekitar kita. Anggaplah itu merupakan hal yang wajar, sehingga kita dapat menyikapi perbedaan tersebut dengan sikap yang wajar dan adil. Karena bisa jadi, sesuatu yang tadinya kecil, tetapi karena salah menyikapi, akan menjadi hal yang besar. Itulah perbedaan. Tak ada yang dapat membedakan kita dengan orang lain, kecuali karena ketakwaannya kepada Allah SWT (QS. Al-Hujurat [49] : 13).

Perbedaan bangsa, suku, bahasa, adat, dan kebiasaan menjadi satu paket ketika Allah menciptakan manusia, sehingga manusia dapat saling mengenal satu sama lainnya. Sekali lagi, tak ada yang dapat membedakan kecuali ketakwaannya.

Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu kita tumbuhkembangkan agar pergaulan kita dengan sesama muslim menjadi sesuatu yang indah sehingga mewujudkan ukhuwah Islamiyah. Tiga kunci untuk mewujudkannya yaitu ta'aruf, tafahum, dan ta'awun. Inilah tiga kunci utama yang harus kita lakukan dalam pergaulan.

Ta'aruf

Apa jadinya ketika seseorang tidak mengenal orang lain? Mungkinkah mereka akan saling menyapa? Mungkinkah mereka akan saling menolong, membantu, atau memperhatikan? Atau, mungkinkah ukhuwah Islamiyah akan dapat terwujud?

Begitulah, ternyata ta'aruf atau saling mengenal menjadi sesuatu yang wajib ketika kita akan melangkah keluar untuk bersosialisasi dengan orang lain. Denga ta'aruf, kita dapat membedakan sifat, kesukuan, agama, kegemaran, karakter, dan semua ciri khas pada diri seseorang.

Tak berlebihan, jika kemudian ada yang mengatakan, "Tak kenal maka tak sayang." Bagaimana kita akan menyayangi orang lain, jika kita tidak mengetahui orang itu. Oleh Karena itu, jika tak kenal maka ta'aruf. Jika kita belum mengenal, maka berkenalanlah.

Tafahum

Memahami, merupakan langkah kedua yang harus kita lakukan ketika kita bergaul dengan orang lingkungan. Setelah kita mengenal seseorang, pastikan kita tahu juga semua yang ia sukai dan yang ia benci. Inilah bagian terpenting dalam pergaulan. Dengan memahami, kita dapat memilah dan memilih siapa yang yang harus menjadi teman bergaul kita dan siapa yang harus kita jauhi, karena mungkin sifatnya yang jahat. Sebab, agama kita akan sangat ditentukan oleh agama teman dekat kita. Masih ingat, "Bergaul dengan orang shalih itu ibarat bergaul dengan penjual minyak wangi, yang selalu memberi aroma yang harum setiap kita bersama dengannya. Sedangkan bergaul dengan yang jahat ibarat bergaul dengan tukang pandai besi yang akan memberikan bau asap besi ketika kita bersamanya."

Tak dapat dipungkiri, ketika kita bergaul bersama dengan orang-orang shalih, akan banyak sedikit membawa kita menuju kepada keshalihan. Dan begitu juga sebaliknya, ketika kita bergaul dengan orang yang akhlaknya buruk, pasti akan membawa kepada keburukan perilaku (akhlakul majmumah).

Ta'awun

Setelah mengenal dan memahami, rasanya ada yang kurang jika belum tumbuh sikap ta'awun (saling menolong). Karena inilah sesungguhnya yang akan menumbuhkan rasa cinta pada diri seseorang kepada kita. Bahkan Islam sangat menganjurkan kepada umatnya untuk saling menolong dalam kebaikan dan takwa. Rasulullah SAW telah mengatakan bahwa bukan termasuk umatnya orang yang tidak peduli dengan urusan umat Islam yang lain.

***

Ta'aruf, tafahum, dan ta'awun telah menjadi bagian penting yang harus kita lakukan. Tapi, semua itu tidak akan ada artinya jika dasarnya bukan ikhlas karena Allah. Ikhlas harus menjadi sesuatu yang utama, termasuk ketika kita mengenal, memahami, dan saling menolong. Selain itu, tumbuhkan rasa cinta dan benci karena Allah. Karena cinta dan benci karena Allah akan mendatangkan keridhaan Allah dan seluruh makhlukNya. Wallahu a'lam bishshawab.