Selasa, 28 Oktober 2008

Anna Canggung

Anna seorang ibu muda yang nampak tak bersemangat dalam menjalani hari-harinya. Siang itu dia bertemu dengan kawan lamanya dipasar,Dina. Anna yang baru pulang menjemput putra sulungnya yang duduk di TK,Boim, mampir membeli diapers untuk anak keduanya yang baru berusia satu tahun. Tak sengaja dia bertemu dengan Dina ditempat yang sama.

"Duh,kangen Na. Makan mie sebentar yuQ disana sambil ngobrol", ajak Dina. Anna melihat jam tangan, jam 2 siang masih cukup waktu untuk mempersiapkan makan malam nanti, dan sibungsu juga masih tidur nyenyak didalam gendongannya,tidak apa-apalah pikirnya.

Mereka duduk didekat jendela Anna memesan es campur untuk Boim, bocah itu nampak bahagia ketika es campur dihidangkan ke mejanya. Sekilas ia melirik Dina,perempuan itu nampak seperti dulu. Mereka dulu adalah rival sekaligus rekan kerja sejati dikampus,dikelas nilai Dina dan Anna saling susul-menyusul,di BEM kampus Dina dan Anna bahu-membahu memperjuangkan idealisme menjadi aktivis yang mengkritisi berbagai kebijakan birokrat yang dinilai berat sebelah.

"Jadi,ibu dosen masih sempat belanja bareng anak-anaknya nih?" Dina membuka obrolan,senyumnya masih seperti yang dulu terlihat lepas dan tanpa beban. Anna menggelengkan kepala.

"Aku bukan dosen lagi,Din. harus mengurus anak-anak siapa lagi yang memperhatikan mereka kalau bukan ibunya?".

"oh, ya...ya. Keluarga tentu nomor satu ya,Na? Hebat masih seperti Anna yang sepenuh hati," Dina tampak sungguh-sungguh, Namun entah mengapa Anna merasa kalimat itu seperti meledek dirinya.

"Jadi ceritakan tentang kamu Din" Anna cepat-cepat menghapus pikiran buruknya,"Anakku baru satu Na, namanya Zaki dia berumur 2 tahun ini photonya."

Satu jam berlalu Anna mohon pamit, ia harus segera pulang, membereskan rumah,menyusui anaknya, lalu menyiapkan makan malam. Nasrul suaminya biasa pulang menjelang maghrib jika tidak ada pekerjaan lain yang mengharuskannya lembur.

Anna memasak sambil melamun, teringat pertemuannya dengan Dina siang tadi,hidup Dina begitu ideal dimatanya,Dina bercerita tentang pertemuan singkatnya dengan suami,kelahiran Zaki yang disambut dengan suka cita,dengan suami yang mengizinkan beraktivitas diluar rumah. Dan yang paling membuat Anna iri, Dina sedang menempuh S2 tugas belajar dari kantor. Semua kebahagiaan itu direngkuhnya sekaligus,suami yang pengertian,anak yang lucu,serta perjalanan karir yang menantang.

Anna teringat dirinya dulu,sejak kecil ia bertabur prestasi disekolah,Anna tidak pernah keluar dari ranking 3 besar sejak SD hingga SMA. Diluar prestasi akademik Anna telah menyumbangkan puluhan trofi memenangi berbagai lomba. Mulai dari lomba melukis,menulis,hingga lomba pidato. Anna yang supel mudah berteman dengan siapa saja, tak sedikit teman lelaki yang mendekati, namun Anna sulit untuk ditaklukkan ia tidak tertarik dengan pria yang berada "dibawah levelnya".

Di kampus,bersama Dina mereka berdua adalah perempuan cemerlang,dua gadis berjilbab itu terkenal sebagai perempuan yang ideal. Cerdas,supel,serta aktif diberbagai kegiatan,Anna menjadi lulusan pertama di angkatannya tak lama menunggu lamarannya sebagai dosen honorer dikampus langsung diterima. Dina menamatkan kuliahnya setahun kemudian lalu mengadu nasib di Jakarta,Anna putus kontak dengannya.

Satu tahun kemudian Anna menikah dengan Nasrul,Pria berkacamata itu adalah dosen di fakultas yang berbeda,Nasrul baru menyelesaikan pendidikan master di Belanda. Anna pernah mendengar sepak terjang Nasrul sebagai ketua BEM tiga tahun sebelum kepengurusannya,Pria itu terkenal dengan kebijakan-kebikannya yang berani laki-laki itulah yang dianggap "selevel" dengannya bahkan Nasrul melebihi Anna dalam segalanya. Kecerdasan,wawasa,idealisme, impian Anna adalah bersuamikan laki-laki yang bisa dijadikan imam dalam segala hal baginya.

Namun Nasrul adalah pria yang berpendirian keras,idealisme Nasrul meminta pengorbanan dari Anna. Saat Boim lahir Nasrul meminta Anna mundur dari perkjaan sebagai dosen,ia ingin Anna konsentrasi mengurus anak-anaknya kelak. Anna mengalah Nasrul adalah imamnya,toh istri tak wajib mencari nafkah lalu Anna mengubur impiannya bersekolah di luar negeri Anna mengubur kecintaannya pada dunia akademik. Ia menghibur diri bahwa memberi perhatian seratus persen pada anak-anaknya akan memberi nilai lebih pada perkembangan mereka nanti.

Meski demikian Anna tak kuasa mengusir hampa,bila ia melihat perempuan seperti Dina masih bisa membagi waktu antara karir dan keluarga,perempuan yang ideal bagi Anna adalah perempuan yang sukses di rumah tangga dan bisa berkiprah di masyarakat. Ah...lagi-lagi idealisme yang berbenturan dengan realita ataukah dahaga yang tak terpuaskan larema tercabutnya syukur dari jiwa?

Malam itu Anna menginap di rumah ibunya,Nasrul sedang berdinas di luar kota Boim dan adiknya sudah tidur dikamar,di ruang makan Anna berkumpul dengan ibu dan adiknya Citra.

"Ci,sebelum menikah diskusikan dulu dengan calon suami nanti bilang kalo kamu juga punya cita-cita,kamu juga mau maju jangan seperti mbak Anna-mu itu apa-apa gak boleh sama suaminya." Mamah menasihati Citra namun kalimatnya seolah-olah lebih ditunjukkan untuk menyindir Anna.

"Ma, Anna kesebelah dulu yah mau ketemu dengan mbak Ani,Boim dan Aim sudah tidur." Anna tidak ingin menunjukkan air matanya ia lebih memilih menuju rumah kakak perempuannya yang tinggal disebelah rumah sang mama.

Kepada Ani, Anna menumpahkan tangisnya dan menceritakan pertemuannya dengan Dina, perasaan yang dipendamnya,keinginnannya yang harus ia pendam demi baktinya kepada Nasrul, kekecewaan mama dan kekecewaannya pada pernikahannya.

"Apa Anna salah memilih suami mbak?" tangis Anna semakin menjadi Ani mengusap punggung adiknya,"Sssst...jangan bilang begitu,Anna bagaimana mungkin kamu menyesali pernikahanmu dengan Nasrul hati-hati berbicara," nasihat Ani.

"Dulu kamu pernah bilang Nasrul lebih hebat segalanya darimu dialah pria pertama yang sekutu denganmu,levelnya bahkan melebihi dirimu," lanjut Ani, Anna semakin menangis.

"Anna aku hanya ingat kau dulu selalu berkata pria yang menikahimu harus lah yang melebihi dari dirimu dalam segala hal,dan kamu selalu bilang Nasrul adalah jawaban atas do'a-do'a dalam sholatmu, Pria itulah yang pantas menjadi imammu. Nah bukankah Nasrul memenuhi kriteria mu? kalau memang yang kau cari kecerdasan,kesuksesan,ketenaran,dan idealisme dari seorang pria yang melebihi dirimu,bukankah sekarang itu yang kau dapatkan Anna? suara lembut Ani menusuknya bagai sembilu.

Anna tergugu betapa angkuhnya ia dulu bahkan dalam do'a-do'anya betapa tinggi ia menentukan bagaimana pria yang boleh menjadi suaminya,beberapa kali lamaran yang ditawarkan kepadanya,namun dengan alasan istikharanya tidak memantapkan hatinya ia menolak dengan halus,Ann menunggu orang yang "lebih pantas" untuknya. Istikharahnya bukan wadah dialog Anna dengan Allah tetapi istikharahnya hanyalah sebuah ritual yang dijalani tanpa mengharap jawaban karena nafsu Anna lah yang menentukan jawabannya

Tidak ada komentar: